Cerpan — Langit Kedua

Sore itu menjelang lagi, penuh dengan semarak sunyi dalam menyambut malam yang menghadang. Dia duduk terdiam merenungi bulan yang sebentar lagi akan datang. Mimpinya luar biasa tinggi. Agak idealis memang, tapi cukup membuat orang lain bergidik melihatnya. Ia kacau balau. Rambutnya tak terurus. Bajunya tak ia ganti-ganti, malas barangkali. Mengurusi dirinya sendiri adalah hal yang paling tidak ia sukai. Pikirannya hanya pada mimpinya sekolah di luar negeri. Sungguh timpang dengan penampilannya yang ngawur ngidul sekali.

Ia sebatang kara. Ayahnya meninggal karena sebuah kecelakaan kerja saat ia tengah bertugas memeriksa rancangan perkantoran yang tengah menjadi proyeknya. Setengah bulan setelah itu, ibunya meninggal karena radang paru-paruyang beliau derita sejak gadis. Sejak saat itu, ia hidup berbekal asuransi seumur hidup yang telah dipersiapkan ayahnya saat masih hidup dulu. Sudah lebih dari cukup untuk membiayai makannya, hingga ia bisa menghasilkan uang sendiri.

Rumahnya terletak di sebuah kota kecil di selatan Bandung. Jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan yang serba gemerlapan. Disini, semuanya serba sederhana, sesederhana penduduk desanya. Di rumah inilah, semua cerita bermula. Di awali dengan bakat luar biasa pemberian Tuhan yang membuatnya mampu memproyeksikan sesuatu yang biasa saja menjadi luar biasa di atas kanvasnya. Sudah banyak lukisan yang ia hasilkan, namun tema lukisannya hanya itu-itu saja, bisa di bilang, stagnan. Mungkin karena tak ada yang membuatnya tertarik untuk melukis hal lain selain pemandangan desa di kala siang hari, atau pemandangan itik-itik pulang petang, ataupun gambaran perjalanan gontai para petani menuju sawahnya di pagi hari.

“ Ibu, apa ada lagi yang harus diturunkan dari mobil ? “ tanya sang anak.

“ Tentu, tolong bawakan tas merah yang berisi pakaian kita !” jawab sang ibu.

Sang anak pun membawa turun tas merah dari mobil sebagai barang terakhir yang ada di mobil. Mobil itupun mulai beranjak pergi. Sekarang saatnya bagi pasangan ibu dan anak ini untuk mengemasi barang-barang pindahannya dan menyusunnya dalam komposisi yang pas dan tidak menyalahi aturan desain rumah dewasa ini.

Semuanya telah tersusun rapi. Ini saatnya untuk menyapa para tetangga baru, sang anak ditugaskan untuk mengantarkan sedikit oleh-oleh kepada pemilik rumah di sebelah kanan, untuk rumah bercat biru itu. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan rumah itu, rumah sederhana bercat biru di atas tanah seluas kurang lebih 700 m2. Namun siapapun yang melihatnya akan langsung dihinggapi perasaan sedih yang tak jelas disebabkan oleh apa. Beberapa warga sekitar memperkirakan hal itu disebabkan oleh aura rumah yang suram seperti tak berpenghuni. Tak ada yang salah soal perkiraan warga itu, karena memang bisa dikatakan tak ada yang tinggal di sana, hanya seorang anak muda yang tergila-gila pada kanvas putih di kamarnya.

“ Assalamu’alaikum ..” katanya sambil mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban.

“ Assalamu’alaikum .. “ katanya dengan ketukan yang agak lebih keras dibanding sebelumnya. Senyap. Tak ada pertanda bahwa ada kehidupan di dalam sana.

“ Assalamu’alaikum, perkenalkan saya tetangga baru disini !” sahutnya mulai gusar. Saat hendak melayangkan ketukan dengan amplitudo yang lebih kuat dari sebelum-sebelumnya, pintu rumah itu tiba-tiba bergerak. Terbuka. Sesaat kemudian adegan slow motion dimulai, sedikit demi sedikit, penghuni rumah itupun mulai menampakkan sosoknya, diikuti dengan arah gerakan mata sang tetangga baru yang sudah gusar karena sahutannya tak jua  disanggupi. Pintu telah terbuka separoh, sang tetangga langsung mengulurkan tangan hendak bersalaman.

“ Perkenalkan, namaku Rani, aku dari Jakarta, sekarang sudah pindah ke rumah bercat putih di sana”, sambil menunjuk sebuah rumah.  Lelaki di dalam rumah itu hanya mengangguk sedikit dan kemudian buru-buru menutup pintu.

“Hei, tunggu sebentar. Ada apa denganmu ?”, tanya Rani. Lelaki itu tak menjawab, pintu rumah itu sejatinya sudah tertutup dari tadi jika Rani tak berusaha menahannya.

“ Jika tak mau berkenalan, paling tidak terima dulu oleh-oleh ini !” sahut Rani yang mulai merasa ada yang aneh dengan lelaki ini. Laki-laki itupun tetap tak bergeming. Rani semakin menguatkan tangannya yang sedang menahan pintu rumah itu. Sesaat semuanya diam, laki-laki itu beranjak sedikit dan mulai menampakkan sosoknya.

“Aku Rangga “ sahut pemuda itu kaku. Pintu rumah itupun tertutup sesaat setelah ia mengatakan beberapa kata itu. Rani hanya terpaku melihat seseorang yang baru saja menyapanya tadi. Bukan jatuh cinta, tapi takut tak kepalang, jika saja pemuda tadi sering berkeliaran di luar rumah, sudah pasti banyak orang yang menyangka ia tak lagi waras.

Rangga tergugup sejenak, ia tak menyangka akan ada orang yang mau berkunjung ke rumahnya. Bukan apa-apa, dia saja sebagai penghuni rumah sudah malas menjadi penghuninya,  apalagi orang-orang yang melihat rumah ini dari bagian luar. Tak peduli bagian luar atau dalam, kedua-duanya sama-sama kacau balau. Bagian dalam rumah cukup bagus sebenarnya, namun karena jarang dibersihkan, semua perabotan itu terlihat lusuh dan kumuh. Hal itu semakin diperparah oleh sisa-sisa crayon, cat air, cat akrilik yang sudah mengering dan berserakan di lantai rumah. Tapi semua aura ‘negatif’ dari rumah itu sedikit berkurang ketika kita mulai menikmati lukisan-lukisan indah yang memenuhi  dinding sebuah ruangan dalam rumah. Misalnya saja lukisan pedesaan yang dilatarbelakangi oleh gambar pegunungan yang membiru itu, sejurus mungkin tampak biasa saja, namun saat dipreleteli satu per satu semuanya terlihat jelas, benar-benar jelas. Setiap detil dari lukisannya benar-benar sukses dideskripsikan oleh sapuan kuas ajaibnya. Ajaib karena tak semua orang yang memegangnya bisa melukis sedetil dirinya, karena hanya dengan dirinyalah kuas ajaib itu bekerja.

Rani kembali ke rumahnya dengan membawa oleh-oleh yang tak jadi diterima oleh tetangga aneh tadi. Rani pun menceritakan pengalamannya tadi pada Ibunya, mendengar cerita Rani, Ibu memutuskan untuk memberikan oleh-oleh tadi pada tetangga lainnya yang berjarak agak jauh dari rumahnya. Rani masuk ke dalam kamarnya untuk mulai membereskan buku-buku yang telah ia koleksi sedari kecil. Tak lupa, ia mulai memajang foto-foto malam yang sering dijepretnya sewaktu masih tinggal di Jakarta dulu. Rani memang suka sekali akan suasana kota pada malam hari, bukan pada detil malamnya, tapi pada kerlap-kerlip lampu kota yang dilihat dari ketinggian yang sempurna. Sempurna karena seluas mata memandang yang ada hanyalah hamparan langit kedua yang berjarak 5 m dari tanah. Langit kedua yang ketika melihatnya tak perlu mendongakkan kepala ke atas, cukup dengan melongok ke bawah, maka akan terlihat lampu-lampu kota yang telah berdiferensiasi menjadi kerlap-kerlip bintang di langit.

Libur semester II telah selesai, sekarang saatnya bagi Rangga untuk mulai memperbaiki penampilannya yang amburadul menjadi serapi mungkin demi mematuhi peraturan sekolahnya. Rangga pun berangkat menuju sebuah sekolah seni yang terletak di kota Bandung, tepatnya kawasan Jatinangor. Disana, ia belajar di departemen seni rupa jurusan seni lukis yang saat ini telah banyak menghasilkan pelukis-pelukis professional yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Rangga bukanlah siswa yang terlalu menonjol dalam bidangnya, masih banyak siswa lain yang memiliki kemampuan melukis melampaui dirinya, tapi ada satu hal yang membuat Rangga juga patut untuk diperhitungkan, yaitu lukisannya yang begitu mendetail.

Rani sejenak terdiam mengingat apa yang baru saja ia lihat. Tetangga anehnya ternyata keluar rumah. Suatu yang cukup aneh bagi Rani karena sudah seminggu sejak kejadian perkenalan itu, tetangganya itu tak pernah keluar rumah. Namun hari ini sosok menakutkan itu telah bertransformasi menjadi seorang pemuda necis yang amat berkebalikan dengan apa yang dilihat Rani pada penampilan pemuda itu seminggu yang lalu. Mulai dari sepatu, lipatan celana, hingga gaya rambut bak duri-duri kaktus menyembul dari kepala, diperhatikan dengan seksama, dengan detail luar biasa. Sesaat, Rani memang tak bisa menyangkal bahwa dirinya terpesona, namun gejolak remaja itupun segera ditepisnya seiring datangnya panggilan Ibu untuk segera berangkat ke sekolah baru.

Sepulang sekolah Rani segera menujukamarnya. Lalu, matanya tiba-tiba bersiborok dengan sosok pemuda yang ia lihat pagi ini. “Ah, cowok aneh tadi !” pikirnya. Sesaat kemudian, Rani  mulai mengikuti setiap jejak langkah pemuda itu dan setiap gerakannya hingga menghilang di balik pintu. Begitulah setiap hari, Rani buru-buru pulang sekolah untuk melihat pemuda itu pulang ke rumahnya. Satu kata yang saat ini terlukis dibenaknya, penasaran.

“ Kok cuma keluar untuk sekolah doang ? emangnya ngapain di rumah ? semedi ? “ gumamnya sendiri.

“Jangan suudzon dong nduk,mungkin lagi banyak pr tuh anak “ jawab Ibu yang ternyata mendengar gumaman Rani.

“Eh, Ibu, dari kapan disini?” tanya Rani dengan muka semburat merah.

“ Dari tadi kali ya, ngapain sih pulang sekolah kerjanya liatin jendela terus ? Eh ternyata ada yang lagi kejatuhan jambu merah ya ? “ tanya Ibu menggoda.

“ Ah Ibu, yang ada mah merah jambu, kok jambu merah ? “ tanya Rani.

“ Tuh kan ngaku.. “ sahut ibunya mencandai.

“ Nggak kok, Rani cuma penasaran aja sama itu orang, kok keluar rumahnya cuma buat sekolah doang ? ngapain di rumah ? ngerakit bom kali ya? sahut Rani sembari tertawa.

“ Yah, suudzon lagi, kok bawaan kamu tu suudzon terus ya ?

“ Eh iya, astagfirullah, ini pasti gara-gara Rani terlalu penasaran sama tu orang !”

“ Kalo gitu samperin aja kali, tanya aja, ngapain sih di rumah ?”

“ Nanti Rani malah dicuekin lagi kayak kemarin, lagian ngapain juga kesana, nanti dikira macam-macam sama tetangga lain !”

“ Kalo memelihara tali silaturahim antar tetangga kan nggak apa-apa “

“ Iya deh  bu, tapi kapan-kapan aja, males “, jawab Rani sekenanya.

Rangga sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti test pertama sebuah lembaga pemberi beasiswa yang langsung dibawahi oleh Kemdikbud RI, beasiswa tersebut ditujukan pada putra-putri Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Namun ia tak perlu khawatir, pada test pertama ini iahanya akan membuat karya seni seperti yang biasa dilakukannya, misalnya melukis pemandangan desa yang dipenuhi oleh perpaduan sapuan berbagai warna terang yang mampu menghangatkan hati siapapun yang melihatnya.

Sudah beberapa hari berlalu sejak kebiasaan Rani memelototi jendela setiap pulang sekolah itu diketahui ibunya, namun ia masih belum bisa menghilangkan gelora penasaran yang ia alami. Gelora penasaran itu diperparah oleh cerita yang ia dengar dari tetangga sekitar bahwa laki-laki itu tak pernah sekalipun keluar rumah pada malam hari. Kesempatan itupun datang,  sang ibu menyuruhnya mengantarkan sedikit makanan kepada tetangga-tetangga sekitar rumah. Kali ini Rani telah menyusun  rencana yang bagus untuk mengobati gelora penasaran yang saat ini ia alami.

Seseorang mengetuk pintu rumahnya, tapi hanya ketukan, tanpa satupun ucapan salam. Rangga yang sedang sibuk memikirkan inspirasi untuk lukisannya merasa terganggudengan ketukan pintu di depan rumahnya, ia pun memutuskan untuk melihat siapakah yang ada di balik pintu itu.

“ Hai, ini dari ibuku, terimalah “ kata perempuan itu. Karena tak ingin menghabiskan waktu meladeni perempuan ini, ia pun menerima makanan itu, dan mengucapkan terima kasih.

“ Eh, tunggu sebentar, kamu aneh ya, kok nggak pernah keluar rumah sih ? “, tanya perempuan itu. Ia terkejut, bagaimana mungkin orang yang tak pernah dikenalnya langsung mengatakan bahwa ia orang aneh, apa hak perempuan ini berkata seperti itu ? pikirnya.

“ Bukan urusanmu “, sahut Rangga datar.

“ Bukan urusanku ? emang sih bukan, tapi kamu bikin tetangga lain penasaran tau !, kamu nggak lagi merakit bom kan ?”, tanya perempuan itu.Ia tersinggung, perempuan ini benar-benar edan !

“ Lihat saja sendiri !”, katanya sambil membukakan pintu lebar-lebar untuk perempuan itu. Perempuan itu masuk ke rumahnya, sambil diikuti dengan batuk-batuk kecil karena banyaknya debu yang ia hirup saat masuk ke rumahnya.

“ Kamu benar-benar tinggal di sini ? kok kayak rumah nggak dihuni sih ?, emang nyaman tinggal di rumah kayak gini ? kamu pemalas amat ya, padahal dari pulang sekolah sampai paginya lagi kamu di dalam rumah terus kan ? kalau punya waktu sebanyak itu sempatin aja kali ngeberesin nih rumah, nyapu apa susahnya ?”, sahut perempuan itu panjang.

Ia benar-benar tak habis pikir, seaneh apapun dirinya, ia masih tak lebih aneh dari perempuan ini yang begitu blak-blakan pada orang yang sama sekali tak dikenalnya.

“ Keluar !” sahut Rangga meninggi.

“ Loh, baru disuruh masuk, kok disuruh keluar lagi, nggak sopan !“, sahut perempuan itu tanpa tedeng aling-aling.Sopan dia bilang ? siapa duluan yang tak sopan ?, pikirnya.

“ Eh, ini apa, cat kan? buat apa ?”, tanya perempuan itu sambil mencari asal jejak dari bekas cat yang ia lihat tadi, “ Kamu ngelukis ? “, sahut perempuan itu.

Sudah terlambat baginya untuk menghentikan langkah perempuan itu, kini mereka berdua sudah berada di ruangan paling ‘positif’ di antara ruangan lain di rumah ini. Sekarang dia sudah berdiri di lautan kanvas penuh warna yang selama ini ia tekuni. Matanya berbinar, ekspresinya menyiratkan kekaguman, mulutnya secara pelan berkata “ Wow ..”. Rangga terpaku melihat perempuan itu, bagaimana mungkin ekspresinya yang sedari awal meremehkan, dalam sepersekian detik berubah menjadi sirat kekaguman.

“ Wow, ini bagus banget, ini beneran karya kamu ? ooh, iadi ini yang buat kamu nggak bosan di rumah, bilang dari tadi kenapa gitu, biar yang lain nggak berpikiran macem-macem ama kamu !” sahut perempuan itu sambil mengacungkan jarinya ke hadapan Rangga.

“ Sorry “ sahut Rangga datar.

“ Nggak, nggak, kalo mau minta maaf harus dibuktiin dulu “ katanya.

Rangga pun menyampaikan tanya lewat expresi wajahnya.

“ Gini aja, kamu harus ngebolehin aku kesini lagi kapan-kapan, mau lihat-lihat lukisan ini lagi “. Setelah itu, perempuan itu langsung balik badan dan keluar dari rumahnya, Rangga yang tak sempat menolak permintaan perempuan itu termenung sendiri, apa yang harus ia lakukan jika perempuan itu datang lagi ?, rasanya normal bagi perempuan itu untuk masuk ke rumah tanpa izinnya.

Rani benar-benar puas sekarang, gelora penasarannya telah terobati, tapi anehnya ia ingin sekali datang ke rumah itu lagi, bukan untuk melihat laki-laki tadi, tapi ingin menikmati lukisannya lagi.Tapi masalahnya, apa alasannya untuk bertamu ke rumah laki-laki itu ? ia memang telah memberitahu bahwa suatu saat ia akan datang lagi, tapi bagaimana cara mengawalinya ?

                Sudah sebulan sejak Rani pertama kali menginjakkan kaki di rumah laki-laki itu, sudah sebulan pula sejak ia melihat lukisan laki-laki itu,aneh rasanya saat ia masih bisa merasakan sensasi kedetilan dari goresan kuas lelaki itu, aneh rasanya karena ternyata ia baru sekali melihat lukisan itu. Kini kesempatan untuk melihat lukisan itu datang lagi, Rani disuruh oleh ibunya mengantarkan sedikit buah tangan dari Madura yang dibawa oleh pamannya.

“ Hai, aku datang lagi !“ sahut perempuan itu sambil tersenyum . Perempuan itu menyodorkan bungkusan oleh-oleh itu padanya.

“ Terima kasih “ sahut Rangga senang. Rangga pun  membuka bingkisan itu sedikit, saat sedang mencari tahu apakah yang ada di dalamnya, perempuan itu telah berada di dalam rumah.

“ Eh, seperti janji ku kemarin, aku bakal kesini lagi, mau ngulang sejarah Apollo pergi ke bulan “, sahut perempuan itu senang.

“ Maksudnya ? “ tanya Rangga bingung.

“ Pasti aku orang luar yang pertama kali menginjakkan kaki di rumahmu waktu itu ? “, tanyanya. Rangga hanya tersenyum kecil mendengar ucapan perempuan itu, sekarang ia tak punya pilihan lain selain membiarkannya melihat lukisan. Sekali lagi, perempuan itu kembali berbinar, sekarang diikuti dengan gerak tangannya yang mengelus lembut kanvas warna itu, ekspresinya tak kurang dari saat pertama kali ia melihat lukisan itu, perempuan itu terlihat begitu bahagia. Namun, setelah mengamati hampir seluruh lukisan yang ada, matanya terlihat menari mencari sesuatu, ia tak berhasil menemukannya, ia terlihat putus asa,

“ Sesuai dugaanku, kau tak pernah melukis malam, memangnya kenapa? “

“ Aku tak suka melukisnya “

“ Loh, kenapa ? “, tanya perempuan itu.

“ Terlalu gelap “, sahut Rangga sambil mempersiapkan peralatan lukisnya.

“ Siapa bilang ? Malam itu bahkan tak kalah indah dengan siang “, jawab perempuan itu.

“ Indah apanya ?” kata Rangga dingin.

“ Mau bukti? Kalau gitu, besok aku bakal kesini lagi !”

“ Terserah “ sahut Rangga sembari mulai menuangkan imajinasinya di atas kanvas. Rani pun ikut terdiam, ia juga ingin memberikan ketenangan pada tuan rumah, akhirnya ia hanya duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan Rangga yang mulai melukis. Laki-laki itu mulai bekerja, ia terlihat begitu menghayati kegiatanya, semua yang berada di sekitarnya seolah ikut khidmat mengikuti gerak kuas ajaibnya. Rani tak menyangka laki-laki ngawur ngidul itu bisa terlihat begitu berbeda ketika melukis, laki-laki itu terlihat … mempesona, ya, bisa dibilang begitu.

Sesaat setelah sampai di rumah, Rani berteriak girang. Besok ia akan ke sana lagi, melihat lukisan laki-laki itu, merasakan sensasi indahnya kanvas warna itu lagi, dan yang paling penting menunjukkan foto-foto langit kedua miliknya.

Siang itu, Rani sudah berencana untuk pulang ke rumah lebih cepat, ia tak sabar lagi untuk memperlihatkan foto-foto itu. Namun, saat perjalanan pulang, angkot yang ditumpanginya mendadak mogok, parahnya ia berada di kawasan tepi hutan. Bengkel terdekat mungkin berjarak 2 km dari sana, akhirnya ia terpaksa menunggu hingga semburat merah mulai muncul di ufuk barat.

Wajahnya terlihat cemas. Rangga hanya bolak-balik mengitari ruang lukisnya. Matanya sesekali bersiborok dengan pintu utama yang tak kunjung diketuk. “ Ahh, ada apa denganku ?” tanya Rangga gusar, apa yangia gusarkan ? untuk apa ? perempuan itu mungkin sedang tidur-tiduran di rumahnya, pikirnya menenangkan diri.

“ Assalamu’alaikum .. “ katanya sambil mengetuk pintu rumah itu.

“ Wa’alaikumsalam “, sahut Ibu yang terburu-buru membukakan pintu.

“ Permisi bu, saya Rangga “ katanya sambil mengulurkan tangan ingin bersalaman. Ibu menghela napas panjang, wajahnya menyiratkan kecemasan mendalam.

“ Ada apa, bu ? Apa ibu sedang sakit ? tanya Rangga.

“ Ah tidak, tidak ada apa-apa. Rangga ? kamu yang tinggal di rumah biru itu kan ?”

“ Ya bu, maaf baru sekarang kesini “ kata Rangga.

“ Ah, tidak apa-apa, ayo silahkan masuk “,

“ Tidak usah bu, saya hanya ingin bertanya ?” kata Rangga sambil memperhatikan isi dalam rumah mencari sosok yang saat itu ia cemaskan.

“ Mau tanya apa ? monggo nak “ kata Ibu. Sesaat Rangga ragu menyampaikan pertanyaanya, untuk apa ia harus bertanya tentang perempuan yang tak dikenalnya itu ? mereka hanya tetangga biasa. Tapi,  sudahlah ini bukan demi itu, tapi demi rasa kemanusiaan.

“ Apa Rani ada di rumah, bu ?” tanya Rangga.

“ Rani ? itulah yang ibu cemaskan dari tadi nak, seharusnya ia sudah sampai di rumah 3 jam yang lalu, hari sudah semakin sore, hpnya ketinggalan di rumah, ibu sudah menghubungi teman-temannya, tak seorangpun dari mereka yang tau keberadaan Rani “ kata Ibu.

“ Apa Rani tidak mengabarkan ia memiliki acara tambahan di sekolah bu ? tanya Rangga.

“ Tidak, ia tak mengatakannya, eh, nak Rangga punya janji sama Rani ?” tanya Ibu penasaran.     “ Saya juga tidak tahu itu bisa disebut janji atau tidak, tapi kemarin dia bilang bakal main ke rumah saya lagi “ kata Rangga.

“ Oh, begitu, tapi bagaimana ini ? Rani belum juga pulang “, sahut Ibu khawatir.

“ Hmm, bu, boleh saya mengantarkan ibu mencari Rani ? mungkin saja ada masalah dalam perjalanan pulangnya “ kata Rangga tulus.

“ Benarkah ? Terima kasih banyak, nak, “ kata ibu senang.

Di sore merekah itu, Rani akhirnya ditemukan saat sedang duduk-duduk menunggu perbaikan angkot yang hampir selesai. Setelah berpelukan dengan Ibu, Rani terkejut melihat siapa yang berada di balik punggung ibunya. Itu dia. Untuk sesaat Rani hanya mampu tertegun melihat sosok jangkung itu.

“ Terima kasih “ sahut Rani sambil menenangkan getaran jantungnya yang tak biasa.

“ Bukan apa-apa “ katanya kaku.

Malam pun menjelang, bulan bulat besar setia bertengger di langit malam penuh bintang, suasana malam itu terang benderang, bermandikan superposisi cahaya bulan bintang. Rani hanya duduk termenung di tepi kasurnya. Ia masih tak habis pikir laki-laki itu menawarkan diri untuk mencarinya, padahal keluar rumah adalah hal yang paling jarang dilakukan laki-laki itu. Satu hal yang pasti, sedikit demi sedikit namun asli, ia mulai bersimpati.Simpati yang aneh,pikir Rani seiring datangnya getaran jantung yang tak biasa itu lagi. Siang kembali datang, sesuai janji yang kemarin tertunda, Rani kembali berkunjung ke rumah Rangga.

“ Yap, aku datang lagi !” sahut Rani gembira, Rangga yang sedang sibuk menyelesaikan berkas-berkas untuk tes kedua beasiswanya hanya mampu menghela napas membayangkan rumahnya akan kembali ramai oleh ocehan perempuan ini.

“ Sekarang aku bakal membuatmu menyukai malam ! “ sahut Rani bersemangat.

“Coba saja” kata Rangga dingin.

Rani pun mulai mengeluarkan ratusan foto-foto malam yang telah ia koleksi sejak SMP dulu, semuanya bercerita tentang langit kedua yang gilang gemintangnya merupakan perpaduan berbagai warna lampu malam, indah, indah tak terperikan.

“ Inilah yang aku suka dari semua gambar visual yang ada, aku menyukai lukisanmu, aku menggemarinya, tapi kecintaanku pada potret langit kedua ini tak bisa dibandingkan dengan itu semua” sahut Rani sambil memperlihatkan satu persatu hasil jepretannya.

“Bagaimana ?” tanya Rani.

“ Kau gagal, aku tetap membenci malam “ kata Rangga.

“ Apa alasanmu ?” tanya Rani.

“ Apa hal seperti ini membutuhkan alasan ? kurasa tidak.”

“ Tentu saja, kamu yang tak butuh, aku yang butuh” sahut Rani.

“ Tak ada alasan apapun” sahut Rangga sambil berlalu.

Sekarang tanda tanya besar berada tepat 5 cm dari wajah Rani. Ada apa dengan laki-laki itu ? kenapa ia terlihat sangat membenci malam ? alasannya apa ?, pertanyaan itu terus berputar-putar di benak Rani.

Rangga berhasil melewati tes tahap kedua beasiswanya, sekarang pada tes tahap ketiga ia diwajibkan untuk membuat tema lukisan yang tak pernah ia buat sebelumnya. Inilah adalah tes tahap terakhir untuk uji kemampuan, selanjutnya akan ada tes wawancara mengenai kesiapan tinggal di luar negeri dan tetek bengeknya, tentu saja hal itu bukan masalah buat Rangga, ia hanya perlu kerja keras untuk menyelesaikan tantangan tes tahap tiga.

“ Ayo sebutkan alasanmu, kenapa kau tak suka malam ?” tanya Rani saat mereka sedang duduk-duduk menikmati senja di beranda rumah Rangga.

” Tak ada alasan “ sahut Rangga.

“ Kamu itu kenapa sih?, bikin illfeel aja” sahut Rani gusar.

“ Lalu kenapa ? itu perasaanmu. Bukan perasaanku” kata Rangga.

Rani hanya mampu manggut-manggut mendengar ucapan Rangga.

“ Eh, ini foto siapa ?” tanya Rani.

“ Orang tuaku. ”

“ Dimana mereka sekarang?” tanya Rani.

“ Surga. ”, kata Rangga berat.

“ Ah, maaf, aku tidak tahu”

“ Tidak apa-apa” kata Rangga.

“ Kalau begitu apa alasanmu membenci malam?” tanya Rani lagi.

” Kamu kenapa sih? Ngotot banget” kata Rangga sewot.

“ Aku tak ingin terlihat berbeda denganmu, aku sangat mencintai malam, dan kau tidak, aku ingin kita sama, aku menyukai kesukaanmu, karena itu aku juga berharap kau menyukai kesukaanku “ kata Rani pelan.

“ Sebegitu inginkah kau tahu alasannya?” tanya Rangga.

“Ya, tentu saja!” sahut Rani kembali bersemangat.

Jelas di matanya, ia terang dengan kejadian itu. Ayahnya tepat jatuh di depan matanya pada malam itu, Malam kelam yang membuatnya selalu bermimpi buruk setelah kejadian itu berlalu. Setengah bulan setelahnya, Rangga kecil juga melihat ibunya mengerang kesakitan saat terjatuh di depan rumah malam itu, sekali lagi, ia semakin takut dengan malam, yang berujung pada kebenciannya pada malam itu sendiri.

“ Kalau kamu cerita dari awal, aku nggak bakal segusar ini tau !” sahut Rani.

“ Sorry”, kata Rangga.

“Oh ya, tes tahap ketigamu melukis tema yang tak pernah kau lukis kan? Aku ada ide ! Gimana kalau melukis malam aja ?” kata Rani berbinar.

“ Nggak mau !” kata Rangga tegas.

“ Ayolah, kau harus menghilangkan trauma masa kecilmu itu, tenang saja, aku yang akan menolongmu !” kata Rani.

“ Kalau gagal, gimana ? apa jadinya kalau kamu membuatku semakin membenci malam?” kata Rangga.

“ Aku jamin, kau tak akan begitu “ kata Rani menenangkan.

Sesaat Rangga melihat sekerjap harapan besar di mata perempuan itu, perempuan yang tanpa izinnya telah memasuki dunianya yang tak pernah dimasuki orang lain, perempuan yang membuatnya menjadi aneh, cemas tak karuan, dan satu hal lagi, lidah yang kelu saat akan berkata tidak untuk perempuan itu.

Bulan purnama di langit pertama. Hari ini bulan berhasil menyelesaikan salah satu visinya untuk memantulkan hampir ½ dari cahaya matahari, sehingga bulan terlihat begitu mempesona dengan sinar oranye yang ikut mencuat-cuat dari lingkaran besarnya. Langit kedua ternyata juga tak kalah indah dengan langit pertama, warna-warni sorot lampu membuat gradasi warna terang dan berkilauan sejauh mata memandang, Rani bahkan lebih menyukai kilauan ini dibanding kilauan perhiasan yang katanya banyak membutakan wanita. Rangga tertegun melihat sinar mata perempuan itu, ia tak sekedar berbinar,ekspresinya tak sekedar menyiratkan kekaguman, mulutnya pun tak bisa berucap “ Wow .. ”, karena kekagumannya tak bisa lagi diwakili oleh huruf-huruf itu, karena kekagumannya benar-benar sebuah totalitas.

“ Yakinlah kamu pasti bisa menghilangkan trauma masa lalumu itu “ kata Rani.

“ Aku sama sekali tak yakin “ jawab Rangga.

“ Aku mengerti masa paling gelapmu itu terjadi pada malam hari, tapi sadarilah satu hal malam tak hanya punya gelap, malam juga punya cahaya “ kata Rani.

“ Kau tak mengerti, jangan pura-pura mengerti soal itu !”, sahut Rangga meninggi.

“ Bentar, bentar, jangan emosian dulu, sorry, aku nggak bermaksud mengasihanimu, aku hanya ingin bilang sesuatu yang selama ini membuatku bertahan dari cobaan Tuhan yang datang lewat Ayah “, kata Rani.

“ Ayahmu ?”, tanya Rangga.

“ Ayahku seorang pejudi kelas kakap, waktu umurku baru menginjak tujuh tahun, ia pergi meninggalkan ibuku yang tak punya harta apapun lagi karena semuanya telah dijual ayah “, ucap Rani sedih.

“ Ma.. maaf, aku tak bermaksud membuatmu mengingatnya “ kata Rangga cemas.

“ Sudahlah, kamu nggak perlu minta maaf, aku sudah biasa mengenangnya. “

“ Lalu, bagaimana caranya agar aku tak lagi membenci malam ?, tanya Rangga.

“ Apa kau pernah dengar bahwa di balik setiap kesusahan itu pasti ada kemudahan ?”

“ Ya, itu pernyataan klasik “, ucap Rangga.

Kau tahu Rangga, kegembiraan itu dapat ditemukan, bahkan di masa paling gelap sekalipun, asal seseorang tak lupa untuk menyalakan lampu “.

              Rangga akhirnya berhasil melewati tes tahap tiga beasiswanya, usaha kerasnya melukis langit kedua itu berjalan sukses. Ia juga tak lagi membenci malam. Sekarang saatnya untuk menunggu panggilan untuk mengikuti tes wawancara yang akan menentukan apakah ia berhak menerima beasiswa tersebut. Mimpinya tinggal selangkah lagi, ia bahkan sudah bisa membayangkan kuas ajaibnya mulai mempreteli setiap lekuk indah pegunungan Alpen di selatan Prancis, ia benar-benar sudah tak sabar lagi.

Matahari mulai bersembunyi di balik awan, seiring waktu matahari memutuskan untuk pulang ke peraduannya, shift siangnya telah selesai, sekarang saatnya untuk bulan menjalankan shift malamnya. Rani sudah berada di dalam rumah Rangga, bukannya tak sopan, tapi ia telah mengetok dan memanggil Rangga berkali-kali, namun sama seperti saat ia pertama kali ke rumah ini, senyap tanpa jawaban. Rani pun berjalan menuju ruangan tempat dirinya biasa menemukan Rangga, Rangga yang sedang berkonsentrasi menggerakkan kuas ajaibnya, Rangga yang terlihat begitu menikmati pekerjaannya, Rangga yang berhasil membuat getaran jantung yang tak biasa di tubuhnya. Namun tidak hari itu, sebercak merah mengenai kanvas putih bersih yang belum sempat digunakan, Rani terdiam kaku, kuas ajaib itu tergeletak di samping pemiliknya, wajah putih bersih pemiliknya sekarang sudah ternodai oleh bercak merah di sekitar mulutnya, Rani mulai merasakan matanya memanas, dan satu per satu butiran air mata itu mengalir deras menuruni pipinya.

Tak jauh panggang dari api, Rangga ternyata mengidap penyakit radang paru-paru yang ia dapat dari ibunya. Radang paru-paru hasil turunan genetic tersebut tak pernah diketahui hingga hari itu. Di samping tubuh Rangga yang tak sadarkan diri itu, Rani menemukan lukisan langit kedua yang berhasil diselesaikan Rangga. Lukisan itu terlihat begitu berbeda dari lukisan-lukisan lain di ruangan itu, lukisan-lukisan yang lain biasanya didominasi oleh warna terang, tapi tidak dengan lukisan ini. Namun bukan itu yang menjadi poin menarik bagi Rani, tepat di tepi kiri kanvas itu, terukir inisial yang belum pernah ia dengar sebelumnya, inisial itu bertuliskan Ranggani.

               Perlahan namun pasti, waktu semakin berlalu, siang berganti malam, malam berganti siang. Tak ada pilihan lain, transplantasi organ harus segera dilakukan. Paru-parunya benar-benar sudah tak bisa digunakan. Namun terlambatnya perawatan yang datang, membuat semuanya menjadi sia-sia.

Deteksi awal yang sangat terlambat itu mungkin disebabkan oleh ketidakpedulian pengidap sendiri terhadap keanehan yang terjadi pada tubuhnya. Keteledoran seperti ini bukanlah hal aneh di Indonesia, mengingat banyaknya korban meninggal dunia karena ketidakpeduliaan diri terhadap kesehatan.

Dua tahun berlalu sejak kepergiannya, sampai saat itu Rani masih penasaran dengan inisial di lukisan langit kedua itu. Bagaimana mungkin ia tak penasaran ketika setiap hari ia selalu memandang lukisan dan inisial itu, ya, lukisan langit kedua telah menjadi lukisan pengobat rindu bagi dirinya. Sampai suatu hari inisial itu terlihat terang baginya, namun bukannya bahagia, untuk yang kesekian kalinya air mata Rani kembali jatuh menuruni pipinya. Saat ia tengah membereskan barang-barang Rangga yang akan dibawa pulang oleh saudara jauhnya, Rani menemukan beberapa lukisan yang terlihat aneh. Aneh karena pemiliknya seakan melarang orang lain untuk menikmati lukisannya.

Sekarang Rani sudah berdiri di depan kanvas rahasia itu. Perlahan, ia mulai menyingkap kain putih penutup kanvas itu, matanya langsung menangkap inisial yang sangat dikenalnya, lagi-lagi, inisial itu bertuliskan Ranggani. Namun yang paling aneh adalah lukisan itu sendiri. Lukisan itu tak lagi bercerita tentang pemandangan alam pedesaan, ataupun suasana itik pulang petang, bahkan bukan pula lukisan langit kedua yang gemerlapan itu, tapi lukisan itu menceritakan tentang seseorang, seseorang yang amat dikenal Rani.

Di lukisan itu, sang pemilik kembali mengajak kuas ajaibnya bercerita tentang hal yang belum pernah mereka ceritakan sebelumnya, sebuah cerita tentang perempuan aneh yang telah mengubah dirinya sedikit demi sedikit, perempuan aneh yang membuatnya tak lagi menakuti malam, perempuan aneh yang membuatnya melukis langit kedua yang sama sekali berbeda dengan lukisan-lukisannya yang lain, dan perempuan aneh yang membuatnya tak bisa menyangkal bahwa ia memiliki kecemasan luar biasa saat perempuan itu menghilang. Ya, lukisan itu bercerita tentang potret Rani sendiri.

“ Sekarang bisakah aku berspekulasi bahwa Ranggani itu inisial nama kita berdua ? Rangga dan Rani“ ?, ucap Rani sambil terisak-isak.

 

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s