Tuhan Bagi Manusia di Era Modern

Audiens        : Masyarakat Eropa yang tidak lagi percaya pada tuhan, malah menuhankan ilmu pengetahuan

Dewasa ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat, saking pesatnya hingga sesuatu yang awalnya tidak bisa dilakukan umat manusia, akhirnya bisa dilakuka dan berhasil. Hal ini terkadang menimbulkan dampak negative yang benar-benar luar biasa, kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi akhirnya dianggap sebagai kekuatan maha hebat yang bisa menyelesaikan persoalan apapun dalam kehidupan umat manusia. Contohnya saja adalah transplantasi organ yang berhasil menyelamatkan jutaan  jiwa di seluruh dunia. Dulu orang tidak pernah berpikir bahwa jantung yang rusak bisa diganti. Sekarang teknologi menunjukkan mukjizatnya kepada umat manusia. Jantung yang rusak bisa diganti, bisa ditransplantasi, bisa dicangkok dengan jantung lain yang sehat.

Suatu pemikiran radikal yang dikemukakan oleh orang-orang yang mengikrarkan diri sebagai hamba Ilmu Pengetahuan, Tuhannya adalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Agamanya adalah agama  Ilmu Pengetahuan atau scientology, kitab sucinya adalah semua buku-buku sains dan teknologi ialah bahwa manusia modern tidak lagi memerlukan Tuhan,seperti yang dijelaskan oleh agama-agama seperti Islam, Kristen, hindu, budha dan lainnya. Manusia tidak lagi bergantung pada Tuhan. Dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang mereka capai mereka mampu mengatasi pelbagai macam persoalan. Mereka bisa hidup tanpa bantuan Tuhan. Di dunia modern yang serba canggih ini Tuhan telah sirna. Karena Tuhan yang sesungguhnya adalah kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbukti banyak menyelesaikan persoalan rumit yang dihadapi umat manusia.

Namun semua itu, hanyalah omong kosong belaka. Kepercayaan akan adanya Tuhan adalah kebenaran postulat, yaitu kebenaran yang sebenar-benarnya benar. Seperti kesimpulan yang disampaikan oleh Immanuel Kant bahwa kebenaran postulat adalah kebenaran tertinggi dalam tingkatan kebenaran, kebenaran yang tak terbantahkan, yang merupakan dalil teoretis yang berada di luar jangkauan pembuktian teoretis. Pemikir yang benar-benar berpijak pada teori ilmiah pengetahuan tidak akan mengingkari adanya Tuhan. Manusia modern sangat memerlukan Tuhan, sama dengan manusia primitif memerlukan tuhan. Dalam masyarakat primitive muncul dewa sungai, dewa langit, dewa laut, dewa hujan, dewa pertanian dal lain sebagainya yang merupakan gambaran dari kekuatan alam.Ketika manusia melihat banjir besar meluluhlantakan ladang pertanian dan pemukian, mereka merasa tidak mampu mengatasinya. Kemudian saat banjir reda dan sungai dapat kembali diambil hasilnya, mereka berusaha agar sungai tidak mengamuk dan tetap memberikan berkah kepadanya, maka mulailah mereka memberikan berbagai sesajian sebagai bentuk penyucian dan penghormatan .

Lalu bagaimanakah dengan manusia modern ? Di antara ahli-ahli yang memang menggunakan teori ilmiah secara benar akhirnya menemukan bahwa Tuhan memang ada. Seperti Rene Descartes, seorang filsuf modern kelahiran Yunani dengan kata-katanya Je pense donc je suis ! atau, Cogito ergo sum ! yang berarti aku berpikir maka aku ada. Ia pun melanjutkan dengan ‘Aku ini ada. Maka siapakah yang mengadakan aku dan menciptakan ak? Aku tidak menciptakan diriku sendiri. Oleh karena itu harus ada Dzat yang menjadikan aku. Dzat yang pasti adanya, Dzat yang tidak mungkin tidak ada. Dzat yang ada dengan sendirinya, dan tidak membutuhkan Dzat lain untuk mengadakan-Nya, atau yang memelihara wujud-Nya. Dzat itu juga harus selamanya ada, tidak berkesudahan. Dan Dia harus pula memiliki sifat-sifat kesempurnaan’.

Kemudian Braise Pascal, seorang fisikawan Prancis, yang kecerdasan mengantarkanyan pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada. Ia mengatakan, “ Pengetahuan kita tentang Tuhan termasuk salah satu pengetahuan pertama, yang tidak memerlukan perdebatan dalil-dalil pikiran. Karena aku bisa tidak ada, kalau ibuku meninggal dunia terlebih dahulu sebelum aku dilahirkan hidup. Jadi, aku bukan dzat yang selamanya ada. Aku bukan tidak berkesudahan. Karena itu harus ada dzat yang ada selamanya, tidak berkesudahan, dimana wujudku bersandar padanya. Yaitu Tuhan. Yang kita ketahui wujud-Nya dengan pengetahuan pertama,  tanpa merepotkan diri dalam perdebatan bukti-bukti alam pikiran !”

Yang dimaksud pengetahuan pertama oleh Pascal adalah fitrah murni dalam diri manusia. Yaitu pikiran fitri yang terdapat dalam akal manusia yang dapat dilihat dengan jelas dan terang benderang tanpa membutuhkan pembuktian. Ialah pikiran yang secara otomatis dapat membedakan baik dan buruk, gelap dan terang, kebenaran dan keadilan.

Di dunia ini, Tuhan menyayangi orang-orang yang mengimaninya juga menyayangi orang yang mengingkarinya. Orang yang sakit perut saja sudah mengaduh semalaman, tapi berani mengatakan bahwa tuhan itu sudah berganti menjadi ilmu pengetahuan, tetap disayangi tuhan. Ketika mereka mengeluarkan statement seperti itu, Tuhan tidak langsung memerintahkan kepada jantungnya untuk berhenti. Tidak. Tuhan juga tidak memerintahkan post sinapsis sarafnya untuk berhenti menerima asetilkolin sehingga saat ini ia masih bisa menggerakkan kakinya dengan gembira. Tidak, Tuhan masih memberinya kesempatan hidup.

Tidak diragukan lagi, manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologi  telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Sekali ketikan di search engine, kita bisa mengetahui apa saja yang terjadi 1 detik sebelumnya dari seluruh dunia ini. Manusia telah berhasil melaksanakan cangkok jantung, hati bahkan berhasil menggandakan mahluk hidup dengan cara cloning. Manusia semakin bisa mengatasi masalahnya, semakin sedikit masalah yang tidak bisa diatasinya, sehingga suatu saat akan sampai pada batas dimana semua masalah akan dapat diatasi

Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Batas dimana manusia ingin mencapainya ternyata selalu mundur seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Suatu masalah dapat ditangani, masalah lain pun muncul. Walaupun cloning berhasil dilaksanakan, namun ternyata organisme yang dihasilkan dari proses ini memiliki system imun yang sangat buruk, sehingga sangat lemah dan akhirnya mati. Maka selamanya manusia tidak akan dapat mencapai batas itu. Ilmu pengetahuan tidak dapat mendeteksi kapan tepatnya gempa terjadi. Kalaupun bisa mendeteksi, tetap saja tidak bisa menolak terjadinya gempa itu sendiri. Demikian pula untuk selamanya manusia tidak akan bisa lepas dari ketuaan dan kematian. Kenyataan ini menyadarkan dia sebagai makhluk lemah. Membawa dia kepada keyakinan akan adanya suatu Dzat yang berkuasa sepenuhnya, yang dapat memberikan segala penyakit, namun juga memiliki penawarnya. Yang dapat mematikan, namun juga dapat menghidupkan. Yang tidak terbatas kekuasaannya. Tidak terpengaruh oleh waktu. Yang kekal abadi tidak terkalahkan oleh kematian, sebab dialah pencipta kematian. Dialah Tuhan ! Dialah ALLAH, Tuhan seru sekalian alam.

Dialah ALLAH, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak beranak dan diperanakkan, yang tidak suatu apapun di jagat raya ini yang setara dengannya.

Hadirin yang berbahagia,

Kata-kata diatas bukanlah pernyataan saya, tapi pernyataan al-qur’an, kitab suci agama islam. Al-qur’an yang telah terbukti kebenaran bahwa ia berasal dari ALLAH, bukan karangan manusia. Sudah ratusan buku yang mengupas tentang keajaiban al-qur’an, namun disini saya akan mencoba menjelaskan satu contoh saja yang berasal dari Dr, Keith L.Moore, seorang ilmuwan ahli embriologi terkenal dari Amerika Serikat. Pada wakti itu, ia sempat membaca artikel bahwa dalam al-qur’an telah dijelaskan ihwal pertumbuhan janin dari masa pembuahan sampai lahir, Awalnya beliau hampir tidak pe.rcaya. Untuk membuktikan kebenaran artikel itu, mau tidak mau Dr. Keith mulai mempelajari al-qur’an, akhirnya ia pun terkagum-kagum kepada al-qur’an. Dr.Keith mengatakan “Apa yang tercantum dalam al-qur;an itu sungguh tidak mungkin terjangkau oleh pengetahuan media pada abad ke-7 Masehi, ketika Nabi Muhammad menyebarkan islam. Ini suatu mukjizat”.

Berdasarkan temua ilmiah itu, Dr. Keith akhirnya memeluk islam dan menjadi muslim yang saleh, Beliau kemudian aktif menangani publikasi Perhimpunan Medika Islam Amerika Utara, Downers’ Grove, Illinois, USA. Beliau juga mengatakan, bahwa rujukan ilmiah tentang perkembangan dan proses reproduksi manusia tersebar dalam berbagai ayat al-qur’an. Diawali dengan QS. Az-Zumar ayat 6, QS. Al-mu’minun ayat 13-14 dan QS. Al Hajj ayat 5.

Penggambaran fetus, yaitu embrio yang telah berkembang di dalam Rahim, baru muncul pada abad ke-15 oleh Leonardo Da Vinci. Memang jauh sebelumnya pada abad ke-2, Galen pernah menggambarkan plasenta dan selaput janin dalam buku On the Formation of The Fetus. Namun hal itu jauh berbeda degan yang diuraikan pada abad ke-7.Ketika itu ahli media telah mengetahui bahwa janin berkembang di dalam Rahim, namun tidak mengetahui bahwa perkembangan itu berlangsung secara bertahap. Pengetahuan tentang penahapan embrio manusia dan bentuknya setiap tahap tidak terbayangkan hingga abad ke-20 ketika Streeter dan O’rahilly mengembangkan system penahapan yang pertama kali. Apalagi tentang tiga lipat kegelapan yang berate lapisan dinding perut, dinding Rahim, dan selaput janin.

Al-qur’an menjelaskan yang artinya :

13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Alaqah dalam  ayat tersebut dapat berarti segumpal darah yang juga bermakna penghisap darah, yaitu lintah. Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat pada tahap ini, yaitu 7-24 hari selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di dinding Rahim dan mengambil makanan dari pembuluh darah. Dan ajaibnya, embrio janin dalam tahap itu jika diperbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah.

Bisakah kita bayangkan bahwa pada saat itu, Nabi Muhammad sudah memiliki pengetahuan sedemikian rupa ? lalu menulisnya dalam sebuah buku ?. Tentu mustahil, maka pengetahuan janin yang berbentuk lintah ini, yang dijelaskan di dalam al-qur’a tak mungkin berasal dari pengetahuan manusia pada abad itu. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari ALLAH, Tuhan seru sekalian alam, yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

Saya sudah menyampaikan kebenaran yang tak terbantahkan ini. Hadirin semua boleh mempercayai saya, boleh juga tidak. Tidak ada paksaan bagi Dr. Keith L.Moore dan ahli lainnya untuk mengimani al-qur’an. Karena

Karena tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dan jalan yang sesat”, QS. Al-baqarah: 256.

          Karena Islam adalah agama yang indah, indah tak terperi.

Inspired by : Bumi Cinta. Habiburrahman El Shirazy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s